Langsung ke konten utama

Postingan

MEMAHAMI LUKA

Tanpa luka, Aku hanya halaman usang yang membosankan. Tanpa janji yang kau ingkari. Aku hanya puisi yang tak punya makna. Kadang, demi bijak yang hebat aku memang perlu ditempa luka yang menjerat. Harus menghadapi duka yang pekat. Kita adalah rentetan kejadian yang runyam. Mencoba untuk saling memahami bahwa semua ini hanya perihal mencari . Bahwa hidup selalu mencari Sebelum akhirnya mati. Aku belajar memahami tenang, saat cemas yang tanpa kabar darimu. Aku belajar mencari jalan, saat tersesat dalam duka yang rimbun darimu. Aku belajar meminta maaf saat aku menjadi penyebab luka. Dan belajar memaafkan ketika kau menjadi penyebab luka.

PADA SEBUAH REALITA

Tak perlu berusaha meyakinkan orang yang tidak yakin padamu/menyukaimu, karena, sebenar-benarnya alasan yang kau suguhkan , kami akan tetap salah didepan mereka yang tidak tepat untukmu. Seberapa sakit kamu terluka tak perlu memelas perhatian dan tak perlu mengajak orang lain untuk membenci mereka yang melukai. Mengertilah bahwa kita terlalu sibuk mengubah mata orang lain, memaksa mereka agar dapat melihat hal yang sama dengan apa yang kita lihat. Kita terlalu banyak berbicara agar mereka dapat paham dan mengerti sesuatu sebagaimana kita ingin begitu dimengerti. Lalu semua kebenaran yang kita anggap agung, bisa membawa kita kesebuah kesalahan aksi. Kita tidak cukup jika hanya berfikir benar. Bahkan kita tidak bisa dibenarkan jika terus-terusan merasa benar. kita juga harus bertindak benar. Jangan hanya otak yang pintar, namun perilaku kita juga harus pintar. Jangan biarkan hati yang terluka memberi izin pada ego untuk melukai . Jangan karena luka yang hebat membuatmu dikuasai ...

PEMAHAMAN AKAN KENYATAAN

Tanpamu, aku mungkin tak dapat memahami arti maaf. Aku tak bisa membalut luka dengan cinta. Kau yang membuatku menemukan arti dari sebuah penerimaan. Dariku yang memiliki banyak kesalahan. namun tetap sibuk menyembunyikannya dalam kebenaran yang seharusnya salah. Terimakasih, telah menjerumuskanku pada pemahaman yang mendewasakan. Memaksa aku menjadi semakin bijak. Bersiap menghadapi hari esok yang masih banyak kekecewaan. Namun aku tak ingin menjadi orang yang terlalu berhati sempit, karna hati ini masih lapang untuk semua makna yang ada. Darimu aku memahami, dari semua luka yang pernah hadir,hingga aku tahu banyak tentang luka maupun melukai. Tugasku sekarang adalah menjaga diriku sehebat mungkin dari kesempatan untuk terlukai maupun melukai. Darimu aku mengerti saat aku  terjatuhkan, aku menemukan bagaimana caraku bangkit dan tersadar. Darimu aku dapat memaknai syukur. akan aku kirimkan jutaan doa untuk kebaikanmu yang tak terukur.