Aku menyapu lantai bukan milikku,
di rumah tetangga yang tak mengenal resah,
tiba-tiba muncullah dua jelmaan hijau,
ular diam, memandangku dengan niat tak ramah.
Satu mengejar dengan ekor menyala,
merah menyimpan amarah yang tersembunyi,
aku menjauh, bukan karena lemah,
tapi karena hatiku tahu jalan damai sejati.
Satu lagi pergi, tidak ingin berperang,
mungkin ia tahu niatku bukan ancaman,
aku mencari teman, meminta bantuan,
karena tak semua ujian harus dihadapi sendirian.
Adikku, anak muda dengan keberanian tak terduga,
bersama teman-teman membakar musuh jadi lauk,
yang tadinya ancaman kini jadi berkah,
dan rumah itu ditinggal dalam damai, bukan nyala api.
Dalam mimpi aku belajar satu hal:
bahwa masalah bisa datang tanpa undangan,
namun dengan kebijaksanaan dan persatuan,
ular bisa jadi sumber kekuatan yang ditinggalkan.
Puisi ini menjadi bentuk kontemplasi bahwa dalam hidup, ada ujian yang datang tiba-tiba. Tetapi dengan kesadaran, pertolongan dari sesama, dan sikap bijak, kita bisa mengubah “ular” menjadi “berkah.” Dan seperti adikmu, kadang seseorang hadir hanya untuk membantu menyelesaikan satu bab, lalu pergi agar kamu melangkah ke bab berikutnya.
Ayah ° Amalia Mutiara Alvin °
Komentar
Posting Komentar