Jika diibaratkan angka, kamu memulai semuanya dari angka seratus.
Sementara aku beranjak dari angka nol.
Di hari yg entah, semesta mengirim kamu. Kamu datang dengan warna baru, dengan lelucon menghangatkan hatiku, dg kalimat lucu nan garing pada setiap balasan chat whatsappmu, tapi aku selalu tertawa karnamu.
Kamu membawa kepercayaan diri itu, bukan hanya untuk meyakinkanku agar bisa jatuh cinta lagi untuk orang yang baru, kamu juga menyisipkan potensi kalau kita bisa bersama dalam ikatan cinta.
aku mulai merasakan perasaan bahagia semenjak kita dekat.
namun, ku tetap menjaganya di angka nol.
aku memperingati diriku sendiri untuk tak terbuai padamu.
Dan entah bagaimana, sekeras apapun aku berusaha mengabaikanmu, benteng di hatiku semakin runtuh.
Perlahan, selihai itu kah kamu yang selalu mendengar keluh kesahku, cerita burukku, rahasia terdalamku.
Kamu meyakinkan bahwasanya setelah semua hubungan yg gagal di masa lalu berakhir, akan lahir hubungan yang baru.
itulah alasan kenapa kita bertemu hari ini untuk saling menyembuhkan lukamu dan lukaku.
tanpa ku sadari, angka nol yg kupegang bergerak drastis menuju sepuluh, dua puluh, tiga puluh.
Beranjak naik, semakin bahagia, angka itu terus-menerus perlahan membesar.
Semakin memuncak, ketergantunganku padamu semakin mendalam, aku membutuhkan responmu, aku senang melibatkanmu dalam keseharianku dan untuk beberapa waktu yg hebat itu, aku merasa kita sama-sama menikmati pergerakan itu. namun, bolehkah aku sepercaya diri itu?
aku mulai takut kehilanganmu.
Aku takut, kamu yg kukenal sekarang yang tadinya tidak punya alasan untuk meninggalkanku, ke sininya malah mencari sejuta alasan agar kamu bisa pergi dariku.
sementara, aku yg dari awal tidak berniat menumbuhkan rasa, malah akan berakhir dengan tangisan penuh cinta.
Dalam hatiku semoga bukan kamu.
yg hanya ingin menguji driku, untuk memilikiku, lalu selesai begitu saja dengan pergi meninggalkanku.
semoga bukan kamu.
yang selalu memfaktakan dua org akan terus merasa istimewa karena mereka baru.
tapi, kalau sudah lama, magic itu perlahan-lahan menghilang, hingga salah satu atau keduanya berubah.
semoga bukan kamu.
yang kembali memutuskan menjadi manusia bersayap.
menjelajahi setiap penjuru demi menemukan pemberhentian selanjutnya, untuk dijadikan rumah.
semoga bukan kamu.
yg membuatku harus kerap berpikir, "kamu masih terus sama aku di sini hanya sampai kamu menemukan yg lebih baik dariku, kan?"
Komentar
Posting Komentar