delapan jam sudah setelah pesanmu tiba pesan itu hanya sesingkat “hai, lagi apa? bisa bantuin ga?”. aku selalu suka membiarkan kamu menjadi pengirim terakhir di batas malam itu. alasannya ya, agar aku punya alasan untuk boleh membuka percakapan keesokan paginya.
aku tidak pernah tahu pesan pertamamu yg ku balas dg biasa saja, bisa berakhir seistimewa ini. caramu mengulik keseharianku dan menjawab pertanyaanku diam-diam membuatku merasa ditemani. sebelum terlalu mengenalmu, bagiku kamu hanyalah satu dari sekian org yg tak perlu kuketahui kehidupannya terlebih ketika melihat perbincanganmu dengan orang lain yg membuatku iri.
maka, kamu tentu boleh berbangga menyadari seberapa kagetnya aku ketika kamu menyapaku di malam itu. harus ku akui, kamu cukup pandai memilih kunci sebagai tiket masuknya. di saat orang lain berusaha menarik perhatianku dengan beragam puja-puji, kamu tidak. tak perlu waktu lama, obrolan kita pun dimulai.
setelahnya, tak begitu banyak obrolan panjang yg terjadi, walau sebenarnya aku sudah senang ditanya-tanya olehmu. karena, pikirku tak perlulah aku menghujanimu dengan obrolan basa-basi ini. aku tahu kamu butuh waktu untuk mengimbangi frekuensiku dan sebaliknya. mari kita biarkan semua terjadi sebagaimana wajarnya. tak perlu begitu memaksa. percuma bila aku mendatangimu terus tapi kamu tak tahu caranya bertahan. iya, kan?
sampai aku tiba di fase “kok aku rindu ya, pas kamu gak ada?”. hari itu, tidak ada pesan darimu tiba. memang aku yang sengaja mengakhirinya. berharap kamu mencariku. lagi. seperti biasanya. aku berusaha percaya kamu tengah punya kesibukan lain yg membuatmu tidak sempat untuk mengirimiku pesan. berulang kali melihatmu online, namun tak kunjung ada notifikasi berupa secuil namamu.
sibuk, ya? jika iya, tak apa, aku punya banyak waktu untuk menanti. walau sebenarnya, kalau kamu ingin tahu, aku diserang gelisah tak menentu hanya demi mengharapkan sebuah pesan masuk berjudul namamu.
tidak, aku belum punya keberanian sebesar itu untuk menanyakan kabarmu tanpa membuatmu berpikir aku sedang mengejarmu. bagaimana menjelaskannya, ya? aku ingin kamu mencariku, tapi aku juga ingin kamu tau kalau ketika aku tak mencarimu bukan berarti aku tak menganggapmu ada. kamu mungkin tak mengerti rasa takutku ini. maka, ku putuskan untuk menunggu. dan menarikmu ke arahku dg satu dua kode status whatsapp, yg berakhir doa. hahaha
kedekatan yg sebentar ini ternyata sudah cukup bahaya untuk membuatku segusar itu ketika mendapatimu begitu aktif di sosial media. aku sudah seegois itu untuk ingin memiliki waktumu saja. tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menggerutu sembari berharap ada angin yg bisa menyadarkanmu kalau aku sedang menantimu mencariku. mendahuluiku memberi kabar dan bersua.
kemudian, setelah aku lelah berprasangka dan mencoba untuk tak peduli, pesan darimu mendadak datang. “hai! jangan pulang malam2 ya”, begitu yg tertulis di layar ponselku.
untuk beberapa detik yg hebat itu, ingin sekali aku memberitahumu kalau aku benci melihatmu online tapi kamu tak mengirimiku sebuah pesan di saat aku menunggu, aku benci kala mendapatimu berkeliaran di gaduhnya dunia maya tapi aku tidak punya keberanian untuk menyapamu. semua itu membuatku menyadari satu hal: aku tak pernah sepercaya diri itu untuk menjadi bagian dari hidupmu, menjadi orang yg kamu inginkan. karena aku sudah mencari info tntgmu dulu. dan masa lalumu.
tapi, aku menarik pikiranku kembali, lalu tersenyum pias, sambil mengetik “hai juga :) iya bentar lagi aku pulang kok”.
gotcha!
kamu yg ada di sekitaran galaksiku,
mulai mengubah orbitku,
dan aku,
berharap kamu mengorbitiku, juga.
jadi, kamu,
ayo beriring! jalan sama-sama, lari sama-sama, beristirahat juga sama-sama. hingga nantik berhenti dan menyemangati untuk terus melaju pun, sama-sama!
will u?
aku tidak pernah tahu pesan pertamamu yg ku balas dg biasa saja, bisa berakhir seistimewa ini. caramu mengulik keseharianku dan menjawab pertanyaanku diam-diam membuatku merasa ditemani. sebelum terlalu mengenalmu, bagiku kamu hanyalah satu dari sekian org yg tak perlu kuketahui kehidupannya terlebih ketika melihat perbincanganmu dengan orang lain yg membuatku iri.
maka, kamu tentu boleh berbangga menyadari seberapa kagetnya aku ketika kamu menyapaku di malam itu. harus ku akui, kamu cukup pandai memilih kunci sebagai tiket masuknya. di saat orang lain berusaha menarik perhatianku dengan beragam puja-puji, kamu tidak. tak perlu waktu lama, obrolan kita pun dimulai.
setelahnya, tak begitu banyak obrolan panjang yg terjadi, walau sebenarnya aku sudah senang ditanya-tanya olehmu. karena, pikirku tak perlulah aku menghujanimu dengan obrolan basa-basi ini. aku tahu kamu butuh waktu untuk mengimbangi frekuensiku dan sebaliknya. mari kita biarkan semua terjadi sebagaimana wajarnya. tak perlu begitu memaksa. percuma bila aku mendatangimu terus tapi kamu tak tahu caranya bertahan. iya, kan?
sampai aku tiba di fase “kok aku rindu ya, pas kamu gak ada?”. hari itu, tidak ada pesan darimu tiba. memang aku yang sengaja mengakhirinya. berharap kamu mencariku. lagi. seperti biasanya. aku berusaha percaya kamu tengah punya kesibukan lain yg membuatmu tidak sempat untuk mengirimiku pesan. berulang kali melihatmu online, namun tak kunjung ada notifikasi berupa secuil namamu.
sibuk, ya? jika iya, tak apa, aku punya banyak waktu untuk menanti. walau sebenarnya, kalau kamu ingin tahu, aku diserang gelisah tak menentu hanya demi mengharapkan sebuah pesan masuk berjudul namamu.
tidak, aku belum punya keberanian sebesar itu untuk menanyakan kabarmu tanpa membuatmu berpikir aku sedang mengejarmu. bagaimana menjelaskannya, ya? aku ingin kamu mencariku, tapi aku juga ingin kamu tau kalau ketika aku tak mencarimu bukan berarti aku tak menganggapmu ada. kamu mungkin tak mengerti rasa takutku ini. maka, ku putuskan untuk menunggu. dan menarikmu ke arahku dg satu dua kode status whatsapp, yg berakhir doa. hahaha
kedekatan yg sebentar ini ternyata sudah cukup bahaya untuk membuatku segusar itu ketika mendapatimu begitu aktif di sosial media. aku sudah seegois itu untuk ingin memiliki waktumu saja. tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menggerutu sembari berharap ada angin yg bisa menyadarkanmu kalau aku sedang menantimu mencariku. mendahuluiku memberi kabar dan bersua.
kemudian, setelah aku lelah berprasangka dan mencoba untuk tak peduli, pesan darimu mendadak datang. “hai! jangan pulang malam2 ya”, begitu yg tertulis di layar ponselku.
untuk beberapa detik yg hebat itu, ingin sekali aku memberitahumu kalau aku benci melihatmu online tapi kamu tak mengirimiku sebuah pesan di saat aku menunggu, aku benci kala mendapatimu berkeliaran di gaduhnya dunia maya tapi aku tidak punya keberanian untuk menyapamu. semua itu membuatku menyadari satu hal: aku tak pernah sepercaya diri itu untuk menjadi bagian dari hidupmu, menjadi orang yg kamu inginkan. karena aku sudah mencari info tntgmu dulu. dan masa lalumu.
tapi, aku menarik pikiranku kembali, lalu tersenyum pias, sambil mengetik “hai juga :) iya bentar lagi aku pulang kok”.
gotcha!
kamu yg ada di sekitaran galaksiku,
mulai mengubah orbitku,
dan aku,
berharap kamu mengorbitiku, juga.
jadi, kamu,
ayo beriring! jalan sama-sama, lari sama-sama, beristirahat juga sama-sama. hingga nantik berhenti dan menyemangati untuk terus melaju pun, sama-sama!
will u?
Merkur Futur - FBCASINO
BalasHapusThe Merkur Futur 영천 출장마사지 is an adjustable short 메리트 카지노 주소 handle adjustable safety razor. 진주 출장마사지 Futur Adjustable 김포 출장마사지 Safety Razor 논산 출장샵 Chrome Satin Chrome.