Kala itu aku menunggumu , ditepi jalan besar dengan lalu lalang kendaraan yg melewatiku.
tak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Hitungan menit yang terasa seperti enam puluh detik membuat mataku tertuju pada sebuah kedai kecil dipinggiran jalan.
Awalnya tak kuhiraukan.
Tapi tiba-tiba mengingatkanku pada sebuah catatan tentang minuman kesukaanmu , orang yang diam-diam membuatku berdialog dengan rasaku.
" aku suka macha" .
Iya , aku ingat sekali kalo dia suka macha.
Aku tersenyum lalu aku mencoba mengunjungi kedai kecil yang tak begitu ramai pengunjung itu.
tertulis macha pada daftar menu yang terletak didepan kedai.
Tanpa berfikir panjang aku langsung membelinya sebagai kejutan kecil yang mungkin akan membuatnya merasa senang.
aku bergegas kembali menghampiri kendaraanku yang ku tinggalkan ditepian jalan.
dari macha aku berharap denganmulah aku akan mulai sebuah perjalanan.
Perjalanan baru, awal baru , dengan cerita baru.
Namun tiba-tiba angin bertiup lebih kencang, seperti ingin menghancurkan rencanaku, dia seperti menari-nari diatas lamunanku.
Dan angin benar-benar membuatku kesal waktu itu, dia membuat macha panasku menjadi beku.
Ah sudahlah, tak apa.
Setidaknya aku sudah merencanakan dengan baik meski tak seperti harapanku , karna aku tau setiap harapan akan selalu berdampingan dengan kekecewaan.
namun aku tak begitu menyalahkan angin, bahkan aku ingin berterimakasih mungkin karnanya aku bisa merasakan kehangatan berdialog , dan mencuri pandang lewat kaca spion.
Hari itu aku benar-benar merasakan macha panas yang beku sedang memberi kehangatan dan harapan juga sebuah kepastian, aku mungkin telah berhasil mendapatkannya.
Sejak saat kuberjumpa dengamu kala itu, kamu mebuatku menerka-nerka.
Akalku, jantungku , paru-paruku , sel darahku telah mengumpulkan suara dan bermusyawarah dan membuat dialog kecil bahwa kamu telah membukakan pintu kesempatan rumah untuk aku singgah.
Untuk itu aku telah menyiapkan secangkir kemesraan dan sekotak kasih untuk kita nikmati dalam perjalanan nanti.
Komentar
Posting Komentar