Titik dimana aku ingin menyerah dengan segala hal. Hari-hariku penuh rasa sedih, kecewa, terluka dan berduka. Jika boleh memilih aku ingin istirahat untuk selama-lamanya. Segalanya tampak lebih buram, abu-abu, tak kasat mata. Tak terlihat namun aku merasa tersayat. Hari-hariku sudah tak normal. Fikirku berangan-angan tanpa sebuah kepastian. Aku hanya berfikir, Tuhan kapan ini berakhir? Jika sudah waktunya, apakah aku boleh mengucapkan pesan terkahirku kepada orang-orang yang merinduku. Tuhan, jika aku tahu menjadi manusia sesulit ini. Mungkin aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan di perut ibu pertiwi. Bukan aku tak menerima takdir yang engkau berikan, aku hanya sedang berada dalam titik lela yang tertumpuk dalam wadah yang kusebut cinta.
Namaku Alvin aku menulis ini karena aku sadar, jika tak mampu mengungkapkan maka tuliskan. Jika tak mampu membuat bahagia, maka belajarlah tidak membuat luka.